Rabu, 16 Maret 2011

Lumbung Pemain Berbakat: Surabaya Kota Pahlawan Sepakbola

INILAH.COM, Jakarta- Menyandang titel sebagai Kota Pahlawan, Surabaya kerap dikaitkan dengan perjuangan. Menariknya hal itu tidak hanya dalam peperangan melawan penjajah tetapi juga di persepakbolaan.
Ketika menyebut kata sepakbola dan Surabaya, sejenak pikiran kita akan melayang ke salah satu tim raksasa di Liga Indonesia yaitu Persebaya. Tak mengherankan karena dari sana banyak talenta muda bermunculan.

Sebagai sebuah klub, Persebaya tidak sekadar tim yang tampil di kompetisi Indonesia. Namun dapat dikatakan sebagai tonggak berdirinya sepakbola Indonesia.
Berdiri pada 1910, tim asal Surabaya ini bermula dengan menggunakan nama Soerabhaiasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB). Kala itu tim SIVB dihuni oleh orang-orang Belanda yang menghuni Surabaya. Namun, seiring perkembangan, tim SIVB mulai dihuni orang-orang pribumi.

Bahkan tepat 20 tahun berselang secara gerilya SIVB bersama dengan enam klub lainnya tampil sebagai aktor utama yang membidani lahirnya induk organisasi sepakbola Indonesia, yaitu Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) dalam pertemuan yang diadakan di Societeit Hadiprojo Yogyakarta.

Keenam klub itu ialah VIJ Jakarta, BIVB Bandung (Persib Bandung), MIVB (PPSM Magelang), MVB (PSM Madiun), VVB (Persis Solo), dan PSM (PSIM Yogyakarta).

Sebagai salah satun tim tertua di Indonesia, prestasi tim asal Surabaya ini bisa dikatakan memuaskan. Setelah membidani lahirnya, PSSI SIVB (Persebaya) mulai mengandalkan materi pemain muda lokal asli Surabaya dengan paduan pemain keturunan Tionghoa.

Selepas era kemerdekaan, SIVB mulai bertransformasi menjadi Persebaya setelah sebelumnya menggunakan nama Persebaja pada era 40an.

Sepanjang keikutsertaannya di kompetisi amatir Indonesia, Persebaya telah menorehkan lima gelar dua diantaranya di kompetisi Perserikatan.

Prestasi ini terus terjaga ketika PSSI menyatukan klub Perserikatan dan Galatama ke dalam kompetisi bertajuk Liga Indonesia pada tahun 1994 lalu.

Tepat pada musim ketiga gelaran Liga Indonesia, Persebaya berhasil merengkuh gelar juara Liga Indonesia pada 1997.

Bahkan tim berjuluk Green Force itu berhasil mencetak sejarah sebagai tim pertama yang dua kali menjadi juara Liga Indonesia ketika pada 2005 Green Force kembali merebut gelar juara.

Namun keandalan mereka tidak hanya sebatas itu. Persebaya juga terkenal piawai mencetak pemain berbakat. Sebut saja nama Abdul kadir, Rudy Keltjes, Didiek Nurhadi, Bejo Sugiantoro, Anang Ma’ruf, Hendro Kartiko, Uston Nawawi hingga Mursyid Effendi. Mereka menjadi langganan timnas Indonesia.

Deret nama itu baru sebagian dari sejumlah pemain Persebaya yang telah melegenda di kancah persepakbolaan tanah air.

Hal itu menjadi bukti dari kepiawaian Surabaya dalam mengelola sejumlah pemain muda untuk kemudian diorbitkan menjadi pemain potensial.

Namun, sayangnya dalam beberapa periode terakhir tim asal Surabaya ini mengalami kemandekan dalam proses memproduksi calon-calon garuda muda.

Oleh karena itu sebagai salah satu kota yang menjadi rujukan tim pencari bakat timnas Indonesia, sudah sepatutnya pihak pemerintah Surabaya dapat bersinergi dengan klub lokal Persebaya dalam upaya memberikan perhatian khusus untuk mencetak pemain muda potensial. [nic]

Kamis, 01 Juli 2010

Tentang "Achmad M. Satari"

Prof, Dr, Ir. Achmad M. Satari, M.F. dilahirkan pada tanggal 13 Maret 1933. Beliau lulus dari Fakultas Pertanian , Jurusan Kehutanan pada Tahun 1958. pada tahun 1958 ia meraih gelar Master of Forestry dari Oregon State University. Gelar selanjutnya yaitu Ph.D bidang Soil Science diraih pada tahun 1967 dari Michigan State University. Kemudian beliau diangkat menjadi Guru Besar Bidang Ilmu Tanah pada tahun 1970 Institut Pertanian Bogor.

Pengalaman kerja yang dimilikinya antara lain menjadi Rektor IPB (1970-1978), Ketua Konsorsium Ilmu-ilmu pertanian (1973-1976), Direktur Pusat Penelitian Pertanian Bogor (1973-1976), Ketua Center of Excellence (UI,IPB,ITB,UGM,UNAIR) (1974-1975), Staf Ahli Mentri Muda Produksi Pangan (1978-1983), Ketua Deputi Bidang Ilmu Dasar dan Terapan (PDIT) , BPP Teknologi (1983-1990), Sekretaris Mentri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup (KLH) (1988-1990), Anggota Dewan Riset Nasional (DRN) (1984-1994), Ketua Yayasan Pendidikan KESATUAN (1986-2005), Rektor Institut Sain dan Teknologi Al-kamal (1989-2006), Ketua LPPM – ISTA (2006-sekarang), Tenaga Ahli Mentri Kehutanan (1992-2001), dan Anggota Dewan Pembina Yayasan Pendidikan DANASHA (2002-sekarang).

Beliau juga pernah tergabung dalam beberapa aktivitas nonstruktural seperti Ketua Tim Penelitian dan Pengembangan Hutan Sagu (1984-1994), Ketua Tim Penelitian dan pengembangan Di Lembah Baliem (Wamena) dan Pegunungan Jaya Wijaya (Tiom) (1985-1995), Ketua Tim Ahli Bimas Ketahanan Pangan Depertemen Pertanian (1999-2000), Ketua Komite Reformasi dan Pembangunan Kehutanan dan Perkebunan (1998-2000), dan membantu kerjasama perhutani dengan Pesantren Darussalam , wanayasa dalam pertanian terpadu melalui pola hutan kemasyarakatan. (2001-2002).

Achmad M. Satari tercatat tergabung dalam beberapa perhimpunan profesi yaitu anggota Perhimpunan Insinyur Indonesia (1957-sekarang), Delta Phi Society (1958-sekarang), Anggota Perhimpunan Sarjana Kehutanan (1959-sekarang), Sigma Xi Society (1967-sekarang), Ketua Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (1970-1974) dan Perhimpunan Agronomi Indonesia (1980-sekarang)

Tanda penghargaan yang sudah diraih oleh beliau antara lain Pahala Alma dari IPB , Satya Lencana Pembangunan , Commandeur in de Leopolds orde, sebagai rektor (Belgia), Perhargaan dari Persatuan Insinyur Indonesia dalam Tekhnik Pertanian , Penghargaan dari USDA dalam Soil and Water Conservation , Honorary President dari International Sago Development Center, Japan, Penghargaan Dari Universitas Cendrawasih sebagai pelopor peneliti Sagu, Penghargaan dari Yayasan Pendidikan Pesantren Al-kamal sebagai Rektor ISTA. (www.hpli.org)

Minggu, 27 Juni 2010

Prof. Dr. Otto Sumarwoto, Pejuang Lingkungan

Prof. Dr. Otto Sumarwoto, seorang tokoh lingkungan, putra terbaik bangsa yang tak ternilai lagi karya-karyanya dan peranannya dalam memberikan solusi dalam penanganan lingkungan hidup. Pria kelahiran Purwokerto pada 19 Februari 1926 sepanjang hidupnya diabdikan untuk kelestarian lingkungan hidup.

Otto Sumarwoto menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar di Temanggung tahun 1941 dan MULO di Yogyakarta tahun 1944. Otto merupakan Anak keenam dari 13 bersaudara dari ayah seorang pegawai DPU zaman Belanda. Pada waktu muda Otto bercita-cita jadi ahli pertanian, namun ia sempat nyasar menjadi pelaut, hanya karena senang melihat kapal. Dia memasuki Sekolah Tinggi Pelayaran di Cilacap (1944), kemudian sempat menjadi Mualim Kapal Kayu (1944-1945).

Namun cita- citanya menjadi ahli pertanian tak pernah padam. Maka selepas menamatkan Sekolah Menengan Atas di Yogyakarta tahun 1947, dia mendaftar di Fakultas Pertanian Klaten. Namun tiba-tiba Belanda datang menyerbu Indonesia, kemudian Otto bergabung ke TRIP 1948 – 1949. Setelah situasi tenang, pada tahun 1949 dia kembali kuliah di Fakultas Pertanian UGM, dan lulus dengan cum laude pada tahun 1954. Kemudian dia pun semangat mengajar di almamaternya. Sebelumnya dari tahun 1952, dia sudah menjadi Asisten Botani Fakultas Pertanian UGM.

Setelah lulus sebagai insinyur pertanian dari UGM, dia menjabat Asisten Ahli Fakultas Pertanian UGM pada 1955. Kemudian meraih gelar Doktor filosofi tanaman (Plant Physiology) dari Universitas California, Berkeley, AS dengan disertasi berjudul “The Relation of High Energy Phospate to Ion Absorption by Excised Barley Roots” pada tahun 1960. Saat pulang ke Indonesia, Otto kembali ke UGM dan menjadi Guru Besar Ilmu bercocok tanam di Fakultas Pertanian dan Kehutanan UGM.

Setelah beberapa tahun mengajar di UGM, kemudian Otto dipercaya menjadi Direktur Lembaga Biologi Nasional (LBN) di Bogor (1964-1972). Disini dia mendalami biologi molekuler, bidang yang memerlukan peralatan rumit dan mahal. Otto makin tertarik pada ekologi lingkungan, kendati masih terbatas pada ekologi tumbuh-tumbuhan.

Pada saat yang bersamaan, dia juga menjabat Direktur SEAMEO (South East Asia Ministers of Education Organization) dan Biotrop Bogor 1968 – 1972. Lalu sejak tahun 1972 dia aktif sebagai guru besar Tata Guna Biologi UNPAD. Selain itu, dia juga menjabat Direktur Lembaga Ekologi UNPAD 1972 yang kemudian mengubah namanya menjadi Pusat Penelitian Sumber Daya Alam dan Lingkungan (PPSDAL). Sejak di lembaga tersebut, Otto dikenal sebagai seorang ahli yang sering melontarkan pernyataan kontroversial.

Pada tahun 1993 Otto bergabung dengan Business Council for Sustainable Development yang diketuai Bob Hasan, tokoh bisnis yang dikenal kontroversial dan sangat dekat dengan penguasa Orde Baru. Otto sadar bisa dituduh jual diri dengan menerima jabatan Direktur Eksekutif di lembaga yang melibatkan Bob Hasan tersebut. Tapi Otto punya alasan sendiri yang bukan soal ekonomi. Saat itu, ia melihat ada usaha dari penguasa kearah yang baik. Masalah lingkungan juga bisnis baru, seperti tekhnologi pengolahan limbah, serta tekhnologi pengurangan asap dan bau.

Saat pensiun, otto menerima “hadiah mewah” dari rekan – rekannya berupa seminar besar yang dihadiri 400 orang. Ini membuktikan bahwa ia memiliki dedikasi yang tinggi dalam lingkungan. Kepakaran tentang lingkungan hidup tidak hanya diakui di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Terbukti pada tahun 1993, Otto memperoleh gelar Doctor Honoris Causa dari Wageningen Agriculture University di Belanda, karena dinilai berjasa mengembangkan konsep pekarangan dan pemikiran tentang kaitan hutan dan lingkungan.

Setelah memasuki masa pensiun, Otto bukan berhenti begitu saja dari aktifitas keilmuannya, ia terus mengajar di UNPAD, UI dan UGM, pembicara diberbagai seminar dan diskusi. Bahkan setelah pensiun, Otto masih rajin membaca dan menulis. Karya tulisannya yang terakhir adalah Atur Diri Sendiri : Paradigma Baru Pengelolaan Lingkungan Hidup, Yogyakarta , UGM Press (2001).

Karya – karya dari Prof. Dr. Otto Sumarwoto antara lain :

1. The Alang – Alang Problem in Indonesia, paper, wasthe Tent Pasific of High School Biology Teaching in Indonesia, Kadarsan & O. Sumarwoto, IUCN Publications, 1968.
2. Ecological Aspects of Development, Elsevier Publishing Co, Amsterdam, Prinsip Sistem Penafsiran Pengaruh Lingkungan, Bandung, Lembaga Ekologi Unpad (1974).
3. Environmental Education and Research in Indonesian Universities, Singapore, Maruzen Asia : Jaring-jaring Kehidupan Mengenai Amdal, Indrapress, 1981.
4. Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan, Jakarta, Djambatan (1983).

5. Indonesia dalam Kancah Isu Lingkungan Global, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama (1991).

Atas pengabdiannya pada lingkungan, Otto banyak menerima berbagai penghargaan, diantaranya yaitu Bintang Mahaputra Utama (1981), dan Satyalencana Kelas I (1982), dan Order of the Golden Ark dari Negeri Belanda.

Pejuang lingkungan Otto Sumarwoto (82) tutup usia di Bandung pada selasa, 1 April 2008, sekitar pukul 00.05 wib akibat sakit yang dideritanya. Kemudian dimakamkan di TPU Sirnaraga sekitar pukul 10.00. "Pendekar Lingkungan Hidup" dari UNPAD itu meninggalkan seorang istri Ny Ijah (78), tiga putri dua putra serta tiga orang cucu. Kepergian Otto Sumarwoto merupakan kehilangan yang sangat besar bagi dunia lingkungan hidup. Namun semangat dan karya-karyanya akan terus berjuang untuk melestarikan lingkungan.
(www.hpli.org)

Anda Adalah Pengunjung Blog Yang Ke :