Tampilkan postingan dengan label SENI DAN BUDAYA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SENI DAN BUDAYA. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Februari 2013

Wayang KLITHIK/KRUCIL....

Berkas:COLLECTIE TROPENMUSEUM Wajangpop demonenfiguur met wijd openstaande bek en grote tanden TMnr 2255-7.jpg
Wayang Krucil Menak Jinga atau Minak Jinggo

Wayang krucil adalah kesenian khas Ngawi, Jawa Timur dari bahan kulit dan berukuran kecil sehingga lebih sering disebut dengan Wayang Krucil. Wayang ini dalam perkembangannya menggunakan bahan kayu pipih (dua dimensi) yang kemudian dikenal sebagai Wayang Klithik.


Di daerah Jawa Tengah wayang krucil memiliki bentuk yang mirip dengan wayang gedog. Tokoh-tokohnya memakai dodot rapekan, berkeris, dan menggunakan tutup kepala tekes (kipas). Sedangkan, di Jawa Timur tokoh-tokohnya banyak yang menyerupai wayang kulit purwa , raja-rajanya bermahkota dan memakai praba. Di Jawa Tengah, tokoh-tokoh rajanya bergelung Keling atau Garuda Mungkur saja. 

Cerita yang dipakai dalam wayang krucil umumnya mengambil dari zaman Panji Kudalaleyan di Pajajaran hingga zaman Prabu Brawijaya di Majapahit. Namun, tidak menutup kemungkinan wayang krucil memakai cerita wayang purwa dan wayang menak, bahkan dari babad tanah jawa sekalipun.
 
Gamelan yang dipergunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang ini amat sederhana, berlaras slendro dan berirama playon bangomati (srepegan). Namun, ada kalanya wayang krucil menggunakan gendhing-gendhing besar.

TOKOH-TOKOH DALAM WAYANG KLITHIK/KRUCIL :
  •  Damarwulan
  • Menakjingga
  • Layangseta
  • Layang Kumitir
  • Logender
  • Prabu Kencanawungu
  • Patih Udara
  • Wahita
  • Puyengan
  • Adipati Sindura
  • Menak Koncar
  • Ranggalawe
  • Buntaran
  • Watangan
  • Anjasmara
  • Banuwati
  • Panjiwulung
  • Sabdapalon
  • Nayagenggong
  • Jaka Sesuruh
  • Prabu brawijaya
  • Angkatbuta
  • Ongkotbuta
  • Dayun
  • Melik
  • Klana Candrageni
  • Klanasura
  • Ajar Pamengger
  • Dewagung Walikrama
  • Dewagung Baudenda
  • Daeng Marewah
  • Daeng Makincing
sumber : wikipedia

Senin, 04 Februari 2013

Apakah BLANGKON Itu...?

Blangkon adalah tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional Jawa. 

Menurut wujudnya, blangkon dibagi menjadi 4: 
  • blangkon Ngayogyakarta
  • blangkon Surakarta
  • blangkon Kedu, dan 
  • blangkon Banyumasan
Blangkon Yogyakarta

Blangkon Kedu

Blangkon Surakarta

Blangkon Banyumasan
Untuk beberapa tipe blangkon ada yang menggunakan tonjolan pada bagian belakang blangkon. Tonjolan ini menandakan model rambut pria masa itu yang sering mengikat rambut panjang mereka di bagian belakang kepala, sehingga bagian tersebut tersembul di bagian belakang blangkon.


Blangkon sebenarnya bentuk praktis dari iket yang merupakan tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional Jawa. Untuk beberapa tipe blangkon ada yang menggunakan tonjolan pada bagian belakang blangkon yang disebut mondholan. Mondholan ini menandakan model rambut pria masa itu yang sering mengikat rambut panjang mereka di bagian belakang kepala, sehingga bagian tersebut tersembul di bagian belakang blangkon. Lilitan rambut itu harus kencang supaya tidak mudah lepas.

Sekarang lilitan rambut panjang yang menjadi mondholan sudah dimodifikasi karena orang sekarang kebanyakan berambut pendek dengan membuat mondholan yang dijahit langsung pada bagian belakang blangkon. Blangkon Surakarta mondholannya trepes atau gepeng sedang mondholan gaya Yogyakarta berbentuk bulat seperti onde-onde.

Sumber : wikipedia

Kamis, 31 Januari 2013

Apakah WAYANG itu...?

Berkas:Bathara Guru.jpg
Batara Guru (Siwa) dalam bentuk seni wayang Jawa.

Wayang adalah seni pertunjukkan asli Indonesia yang berkembang pesat di Pulau Jawa dan Bali. Selain itu beberapa daerah seperti Sumatera dan Semenanjung Malaya juga memiliki beberapa budaya wayang yang terpengaruh oleh kebudayaan Jawa dan Hindu.

UNESCO, lembaga yang membawahi kebudayaan dari PBB, pada 7 November 2003 menetapkan wayang sebagai pertunjukkan bayangan boneka tersohor dari Indonesia, sebuah warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity).

Sebenarnya, pertunjukan boneka tak hanya ada di Indonesia karena banyak pula negara lain yang memiliki pertunjukan boneka. Namun pertunjukan bayangan boneka (Wayang) di Indonesia memiliki gaya tutur dan keunikan tersendiri, yang merupakan mahakarya asli dari Indonesia. Untuk itulah UNESCO memasukannya ke dalam Daftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia pada tahun 2003.

Tak ada bukti yang menunjukkan wayang telah ada sebelum agama Hindu menyebar di Asia Selatan. Diperkirakan seni pertunjukan dibawa masuk oleh pedagang India. Namun demikian, kejeniusan lokal dan kebudayaan yang ada sebelum masuknya Hindu menyatu dengan perkembangan seni pertunjukan yang masuk memberi warna tersendiri pada seni pertunjukan di Indonesia. Sampai saat ini, catatan awal yang bisa didapat tentang pertunjukan wayang berasal dari Prasasti Balitung di Abad ke 4 yang berbunyi si Galigi mawayang

Ketika agama Hindu masuk ke Indonesia dan menyesuaikan kebudayaan yang sudah ada, seni pertunjukan ini menjadi media efektif menyebarkan agama Hindu. Pertunjukan wayang menggunakan cerita Ramayana dan Mahabharata.

Demikian juga saat masuknya Islam, ketika pertunjukan yang menampilkan “Tuhan” atau “Dewa” dalam wujud manusia dilarang, munculah boneka wayang yang terbuat dari kulit sapi, dimana saat pertunjukan yang ditonton hanyalah bayangannya saja. Wayang inilah yang sekarang kita kenal sebagai wayang kulit. Untuk menyebarkan Islam, berkembang juga wayang Sadat yang memperkenalkan nilai-nilai Islam.

Ketika misionaris Katolik, Pastor Timotheus L. Wignyosubroto, SJ pada tahun 1960 dalam misinya menyebarkan agama Katolik, ia mengembangkan Wayang Wahyu, yang sumber ceritanya berasal dari Alkitab.

JENIS WAYANG BERDASARKAN BAHAN BAKU PEMBUATAN
WAYANG KULIT 
  • Wayang Purwa
    • Wayang Kulit Gagrag Yogyakarta
    • Wayang Kulit Gagrag Banyumasan
  • Wayang Madya
  • Wayang Gedog
  • Wayang Dupara
  • Wayang Wahyu
  • Wayang Suluh
  • Wayang Kancil
  • Wayang Calonarang
  • Wayang Krucil
  • Wayang Ajen
  • Wayang Sasak
  • Wayang Sadat
  • Wayang Parwa
  • Wayang Arja
  • Wayang Gambuh
  • Wayang Cupak
  • Wayang Beber
WAYANG KAYU
  • Wayang Golek/Wayang Thengul
  • Wayang Menak
  • Wayang Papak/Wayang Cepak
  • Wayang Klithik
  • Wayang Timplong
  • Wayang Potehi
 WAYANG ORANG
  • Wayang Gung
  • Wayang Topeng
 WAYANG RUMPUT
  • Wayang Suket
JENIS WAYANG MENURUT ASAL DAERAH
Beberapa seni budaya wayang selain menggunakan bahasa Jawa, bahasa Sunda, dan bahasa Bali juga ada yang menggunakan bahasa Melayu lokal seperti bahasa Betawi, bahasa Palembang, dan bahasa Banjar. Beberapa diantaranya antara lain:
Berkas:Wayang Bali.jpg
Wayang Bali
  • Wayang Surakarta
  • Wayang Jawa Timur
  • Wayang Bali
  • Wayang Sasak (NTB)
  • Wayang Kulit Banjar (Kalimantan Selatan)
  • Wayang Palembang (Sumatera Selatan)
  • Wayang Betawi (Jakarta)
  • Wayang Cirebon (Jawa Barat)
  • Wayang Madura (sudah punah)
  • Wayang Siam (Kelantan, Malaysia)

Sumber : wikipedia

Kamis, 05 Juli 2012

Menakar Eksistensi Tari Remo

Tari Remo adalah salah satu tarian untuk penyambutan tamu agung, yang ditampilkan baik oleh satu atau banyak penari. Tarian ini berasal dari Provinsi Jawa Timur.

ASAL-USUL
Tari Remo berasal dari Jombang, Jawa Timur. Tarian ini pada awalnya merupakan tarian yang digunakan sebagai pengantar pertunjukan ludruk. Namun, pada perkembangannya tarian ini sering ditarikan secara terpisah sebagai sambutan atas tamu kenegaraan, ditarikan dalam upacara-upacara kenegaraan, maupun dalam festival kesenian daerah. Tarian ini sebenarnya menceritakan tentang perjuangan seorang pangeran dalam medan laga. Akan tetapi dalam perkembangannya tarian ini menjadi lebih sering ditarikan oleh perempuan, sehingga memunculkan gaya tarian yang lain: Remo Putri atau Tari Remo gaya perempuan.

TATA GERAK
Karakteristika yang paling utama dari Tari Remo adalah gerakan kaki yang rancak dan dinamis. Gerakan ini didukung dengan adanya lonceng-lonceng yang dipasang di pergelangan kaki. Lonceng ini berbunyi saat penari melangkah atau menghentak di panggung. Selain itu, karakteristika yang lain yakni gerakan selendang atau sampur, gerakan anggukan dan gelengan kepala, ekspresi wajah, dan kuda-kuda penari membuat tarian ini semakin atraktif.


TATA BUSANA
Busana dari penari Remo ada berbagai macam gaya, di antaranya: Gaya Sawunggaling, Surabayan, Malangan, dan Jombangan. Selain itu terdapat pula busana yang khas dipakai bagi Tari Remo gaya perempuan. 

1. BUSANA GAYA SURABAYAAN 
  • Terdiri atas ikat kepala merah, baju tanpa kancing yang berwarna hitam dengan gaya kerajaan pada abad ke-18, celana sebatas pertengahan betis yang dikait dengan jarum emas, sarung batik Pesisiran yang menjuntai hingga ke lutut, setagen yang diikat di pinggang, serta keris menyelip di belakang. Penari memakai dua selendang, yang mana satu dipakai di pinggang dan yang lain disematkan di bahu, dengan masing-masing tangan penari memegang masing-masing ujung selendang. Selain itu, terdapat pula gelang kaki berupa kumpulan lonceng yang dilingkarkan di pergelangan kaki. 
2. BUSANA GAYA SAWUNGGALING 
  • Pada dasarnya busana yang dipakai sama dengan gaya Surabayan, namun yang membedakan yakni penggunaan kaus putih berlengan panjang sebagai ganti dari baju hitam kerajaan.
3. BUSANA GAYA MALANGAN 
  • Busana gaya Malangan pada dasarnya juga sama dengan busana gaya Surabayan, namun yang membedakan yakni pada celananya yang panjang hingga menyentuh mata kaki serta tidak disemat dengan jarum.
4. BUSANA GAYA JOMBANGAN 
  • Busana gaya Jombangan pada dasarnya sama dengan gaya Sawunggaling, namun perbedaannya adalah penari tidak menggunakan kaus tetapi menggunakan rompi.
5. BUSANA REMO PUTRI
  • Remo Putri mempunyai busana yang berbeda dengan gaya remo yang asli. Penari memakai sanggul, memakai mekak hitam untuk menutup bagian dada, memakai rapak untuk menutup bagian pinggang sampai ke lutut, serta hanya menggunakan satu selendang saja yang disemat di bahu bahu.

PENGIRING
Musik yang mengiringi Tari Remo ini adalah gamelan, yang biasanya terdiri atas bonang barung/babok, bonang penerus, saron, gambang, gender, slentem siter, seruling, kethuk, kenong, kempul, dan gong. Adapun jenis irama yang sering dibawakan untuk mengiringi Tari Remo adalah Jula-Juli dan Tropongan, namun dapat pula berupa gending Walangkekek, Gedok Rancak, Krucilan atau gending-gending kreasi baru. Dalam pertunjukan Ludruk, penari biasanya menyelakan sebuah lagu di tengah-tengah tariannya.

(wikipedia & berbagai sumber)

Kamis, 04 Agustus 2011

Sjahrazat Masdar, Pegawai Pemda 2012 Pakai Batik Lumajang

Lumajang (suaranusantara.com, Minggu, 31 Juli 2011)
Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Citra Kecamatan Yosowilangun, Mengadakan kegiatan sekolah batik gratis. Acara ini dilaksanakan setiap hari Minggu bersamaan dengan Car Free Day di Alun-alun selatan depan Pendopo Kabupaten Lumajang, Minggu (31/07/2011).

kegiatan yang di gelar sederhana ini dihadiri oleh Bupati Non aktif DR. H. Sjahrazad Masdar, MA, Kabag Humas dan dari kantor Pariwisata Seni dan Budaya Lumajang. Juga hadir dalam kegiatan ini Finalis cak dan Yuk Kabupaten Probolinggo dan duta wisata Lumajang.

DR. H. Sjahrazad Masdar, MA, saat berdialog dengan para duta wisata Kabupaten Probolinggo mengatakan sangat mendukung sekali kegiatan ini, karena akan membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat.

Saat ditanya salah seoranag duta wisata, tentangg upaya pemerintah untuk melestarikan, memperkanalkan batik Lumajang, Menurutnya Pemerintah sekarang sedang dalam proses pengurusan hak paten batik.

Lumajang biar batik Lumajang tidak bisa diakui daerah Lain. Ia menambahkan di tahun 2012 pemerintah akan melakukan Launching dan mewajibkan seluruh pegawai Pemda untuk memakai batik Lumajang.

"2012 akan melakukan Launching dan mewajibkan seluruh pegawai Pemda memakai batik Lumajang," ungkapnya.

Pemerintah juga akan memfasilitasi masyarakat untuk untuk mengembangkan batik Lumajang. Ketika di tanya masalah dana yang biasanya di hadapi para pembatik, Pemerintah bukan bertugas untuk memberikan modal tapi pemerintah akan memfasilitasi dalam melakukan pinjaman ke pihak Bank.

"Pemerintah akan memfasilitasi pemerintah untuk pemberdayaan bukan memberikan modal," pungkasnya. (yud/sur)

Rabu, 13 Juli 2011

Cak KARTOLO, Cak MAHFUD Dan Para Waria...

Pementasan ludruk musikal Kartolo Mbabelo di Graha Bhakti, Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta

Tokoh ludruk, Kartolo, mementaskan Kartolo Mbalelo di Taman Ismail Marzuki. Benar-benar suara hati wong cilik.


(TEMPO) Umur Cak Kartolo kini 64 tahun. Tapi lihat betapa dia awet enom alias awet muda. Wajahnya dari dulu ya begitu. Tak tambah kurus, tak kelihatan lebih gemuk. Brengos (kumis)-nya masih tebal. Sahabatnya, jawara ludruk Surabaya, sudah banyak yang almarhum: Cak Kancil, Cak Basman, Cak Sokran, Cak Blonthang. Tinggal dirinya yang masih tersisa dari generasi golden age ludruk, 1980-an. Tapi jula-julinya, diancuk, masih segar. ”… Aku kepengen dadi pegawai negeri sebab bayarane iku yo wis mesti, aku bakal nglakoni jujur nggak sampai korupsi. Kadang-kadang gur ono sing lali….” Kartolo jarang-jarang ke Jakarta. Namun, sekalinya datang, ia membuat perut kita mulas karena terlalu banyak tertawa. Lihatlah bagaimana Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jumat dua pekan lalu, seolah dilanda gempa karena orang ngakak terus menerus. Itulah pentas Kartolo Mbalelo. ”Enggak ngerti bahasa Jawa aja udah lucu, apalagi ngerti,” komentar seorang penonton.
Kartolo dikenal mengandalkan spontanitas di panggung. Ia tak mau mengulang kalimat-kalimat lawakannya yang sudah sering ia keluarkan. Ia selalu berusaha mencari parikan-parikan yang baru. Ia menggunakan bahasa Jawa Suroboyoan-Malang yang kasar: nggatheli, mbadog, congor, diancuk…. Ia berbicara tentang hal-hal sederhana, yang berangkat dari pengalaman rakyat sehari hari pengalaman yang bisa dicerna, dari tukang becak, sopir angkot, sampai gembelgembel. ”Aku wedi nek manggung nggarap partai politik, wedi kalah lucu.” Itu pernyataan jujur Kartolo. Memang jarang pentasnya berpretensi menyindir atau mengkritik kekuasaan. Butet Kartaredjasa dan Sujiwo Tejo berhasil menggaet Kartolo masuk konteks itu. Pentas Kartolo malam itu penuh dengan guyonan, mulai bocornya tabung gas, kemacetan Ibu Kota Jakarta, tata tertib lalu lintas, sogokan terhadap aparat kepolisian, hingga tingkah polah para wakil rakyat. ”Ora usah kakean cangkem. Opo-opo kok fatwa, tuku bensin fatwa, ngrokok fatwa, diancuk! Sing penting ki atine seneng,” kata Butet Kartaredjasa, selaku produser, mengawali pementasan. Kartolo digoda oleh Merlyn yang menjadi bidadari

Sujiwo Tejo, selaku sutradara, membuat panggung sebagai campuran antara pentas ludruk dan musikal-musikalan. Mengenakan topi laken, ia mulanya meniup saksofon dengan latar set bulan purnama. Tiga penari dengan gaya breakdance ala 1980-an, lengkap dengan tape recorder, kemudian masuk kepanggung. Tak dinyana, begitu tape diputar, musik pengiring tari Remo (tarian pembuka ludruk) mengalun. Dan mereka pun kompak menarikan tari Remo, bukan breakdance. Sontak penonton nyengir. ”Diamput! Tak kiro arep breakdance,” ujar Yudo, salah satu penonton.

Dan sepanjang pentas yang musiknya dikomandani Djaduk Ferianto kita melihat sebuah pertunjukan yang campur-baur. Ada waria, ada pencak silat, ada ludruk, ada jazz, ada Denpasar Moon, ada campur sari Turi-turi Putih, ada nyanyian Sujiwo Tejo. Inilah awal pembukanya: Cak Sapari masuk ke panggung dan disambut dengan salam dan pelukan hangat dari Cak Kartolo. ”Ben koyo pejabat to, nek ketemu ki ngene, pelukan, ciuman pipi,” ujar CakKartolo.
● ● ●
Mahfud Md. tengah melawak dengan gaya ludruk Kartolo Mbabelo

PLOT pertunjukan malam itu sesungguhnya sederhana. Kartolo memerankan dirinya sendiri. Kartolo Mbalelo bercerita mengenai Kartolo yang mendapat undangan pentas di hadapan politikus ternama, Cak Lontong. Kedekatan Kartolo dengan wong cilik membuat Cak Lontong ingin meminangnya di panggung politik. Kartolo menampik tawaran itu. Iming-iming jabatan yang tinggi serta uang ratusan juta pun ditawarkan Cak Lontong. Istri Kartolo, Yu Ning yang sehari-hari memang istri Kartolo (Ning Kastini) dan Cak Sapari, sahabat dekat Kartolo, pun membujuk Kartolo. ”Aku males nek menghibur parpol, wong-wong politik ki plinplan,” kata Kartolo menghadapi desakan istrinya. Permainan Cak Lontong cukup tangkas. Sindiran-sindiran politiknya bernas. Celetukan-celetukan komedian tinggi besar alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember itu lebih legit daripada penampilannya sebagai menteri di seri Republik Mimpi Indosiar. Apalagi saat ia meng-kuyo-kuyo Rohana ”Srimulat”, sekretarisnya. Badan kecil Rohana yang kontras dengan Cak Lontong menjadi bahan bakar lelucon. Permainan Rohana pun lebih lucu daripada suaminya, Nurbuat, yang malam itu menjadi anggota partai politik Cak Lontong. Adegan kocak lain adalah saat Kartolo melakukan tapa brata. Ia menjelma menjadi Sakerah, sosok jagoan legendaris asal Pasuruan yang gigih melawan penjajahan. Dalam adegan ini, muncul para waria, termasuk Ratu Waria se Indonesia, Merlyn, yang berperan sebagai bidadari. Para bidadari ini terus menggoda Kartolo dengan berbagai rayuan, dari tawaran kekayaan hingga urusan ranjang. Sujiwo Tejo sengaja menggandeng Merlyn. ”Saya tampilkan bencong-bencong karena bencong itu ciri khas ludruk,” kata Sujiwo Tejo. Kehadiran Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud Md. sebagai bintang tamu tak menyurutkan sentilan-sentilan bagi para politikus. Meski terlihat kaku, penampilan Mahfud tak membuat pementasan kendur.

Yang membikin gemas adalah pemunculan penyanyi dangdut asal Pasuruan, Inul Daratista. Penampilannya seksi. Ia merayu Kartolo, mengajak selingkuh. Namun Kartolo tetap setia kepada Yu Ning, istrinya. Inul melantunkan tembang dangdut dan mendemonstrasikan goyang ngebornya. Lagu-lagu ringan, seperti Karmila, dan lagu dari band Kuburan berjudul Lupa-lupa Ingat yang diubah liriknya pun menjadi sarana untuk menyindir politikus: ”Lupa, lupa-lupa-lupa, lupa lagi janjinya. Ingat, ingat-ingat-ingat, cuma ingat duitnya….”
Pementasan yang beberapa kali mengalami perubahan naskah ini juga dimeriahkan oleh penari Banyuwangi, Acapela Madura, Gladi Tari Gajah Mada, dan Perguruan Silat Tiga Berantai. Kehadiran Perguruan Silat Tiga Berantai cukup memukau penonton melalui adegan silat di akhir pertunjukan. Jurus-jurus silat diperlihatkan oleh anggota Perguruan Silat Tiga Berantai, yang piawai, ketika Kartolo digambarkan berubah menjadi Sakerah. Beberapa kendala selama pementasan, seperti matinya clip on microphone serta suara-suara dari musik yang mengganggu, tak mengurangi kenyamanan penonton. Terlebih para pemain dengan piawai menyiasati gangguan-gangguan teknis itu dengan improvisasi-improvisasi tak terduga. Saat tiba-tiba loudspeaker salah volume dan menimbulkan gludag-gludug sember yang sangat keras, Cak Sapari spontan mengatakan, ”Awas, awas, Amerika datang….”

Hal itu membuat terbahak semua penonton, termasuk Garin Nugroho. Garin mengatakan kolaborasi Sujiwo Tejo dan Butet Kartaredjasa sangat pas. Sujiwo Tejo sendiri mengatakan mulanya sangat sulit mengajak Kartolo masuk konteks politik. ”Saya tidak suka politik, saya tidak bisa kalau bicara politik yang serius,” ujar Cak Kartolo. ”Padahal, dalam naskah yang ditulis Agus Noor, sudah digambarkan bagaimana Kartolo yang jujur menolak mentahmentah terlibat politik. Namun, ketika itu dibicarakan dengan Cak Kartolo, dia tetap menolak berbicara apa pun soal politik,” kata Sujiwo Tejo. Alhasil, untuk menyiasatinya, Sujiwo Tejo pun membelokkan peran tersebut ke pemain lain, Cak Lontong dan Cak Fatah.
● ● ●
bersama sujiwo tejo

KUCLUK. Istilah orang Jawa Timur tentang perangai yang konyol mungkin pas untuk menggambarkan resep parikan dan lawak Kartolo: logika bengkok, ungkapan-ungkapan paradoks, serta perbuatan-perbuatan yang goblok dan tak masuk akal, seperti mangan neker (makan kelereng) dan kleleken timbo (tersedak lantaran menelan timba). Rohaniwan Sindhunata, SJ, pernah mengatakan lawakan-lawakan Kartolo digemari rakyat kecil karena sesungguhnya mengajak orang menertawai dan mengejek hal-hal bloon dan kesalahan yang sering mereka lakukan dalam hidup sesuatu yang membuat orang akhirnya menjalani hidup yang keras sehari-hari dengan santai. Kartolo lahir di Watuagung, Prigen, Pasuruan, Jawa Timur, pada 1946. Sulung dari empat bersaudara keluarga Aliman dan Payanah itu melewati masa kecil di desa kelahirannya, daerah pertanian di sekitar kawasan Taman Safari. Debutnya di dunia ludruk dilakukan saat ia lulus dari sekolah rakyat pada 1958. Ia ikut grup Margo Santoso, kelompok ludruk di desanya, sebagai penabuh gamelan. Dinilai berbakat, akhirnya Kartolo ditarik menjadi pemain. Kartolo kemudian malang-melintang di banyak grup ludruk. Ia pernah bergabung dengan rombongan ludruk Panca Tunggal, Pandaan, Pasuruan; Dwikora, binaan Zipur V Malang; ludruk Gajah Mada binaan Marinir di Surabaya; ludruk Tansah Tresno dan Bintang Surabaya; ludruk Jombang Selatan; dan ludruk Radio Republik Indonesia Surabaya. Di RRI itu ia jatuh cinta pada Kastini, yang kemudian menjadi istrinya. Yang sangat fenomenal adalah kaset- kaset Kartolo. Pada 1980-an, Kartolo merekam kidungan parikannya lebih dari 95 volume. Awalnya adalah kolaborasi dengan Karawitan Sawunggaling Surabaya pimpinan Nelwan’S Wongsokadi. Mereka masuk dapur rekaman untuk merekam kidungan parikan diselingi guyonan. Di luar dugaan, sambutan masyarakat Jawa Timur luar biasa. Album barunya senantiasa ditunggu penggemarnya. Kasetnya yang paling awal adalah Peking Wasiat, Welut Ndas Ireng, dan Tumpeng Maut. Tapi semua itu tanpa royalti dan Kartolo sampai kini tak peduli dan tak menuntut apa-apa. Kelompok Kartolo cs mulanya terdiri atas enam orang: Cak Kartolo, Ning Tini, Yakin, Bu Sumilah, Munawar, dan Sapari. Kemudian terjadi pergantian pemain, yaitu Yakin dan Bu Su milah digantikan Sokran dan Basman yang tak lain mertua Kartolo. Kemudian Munawar meninggal. Ketika Sokran pun meninggal, bergabung lagi seorang pemain sebagai penggantinya, yaitu Slamet. Terakhir, Basman juga meninggal, sehingga anggota kelompok ini tinggal empat orang: Cak Kartolo, Ning Tini, Sapari, dan Slamet. Dan malam itu kita masih melihat kekompakan Kartolo, Cak Sapari, dan Ning Tini. Mereka seolah berikrar sampai mati mempertahankan ludruk, dan menyuarakan suara hati orang-orang yang dianggap sampah: para banci, waria, dan sebagainya. Mereka tampil apa adanya, tanpa takut dicap ndesit, norak, atau kampungan, tak risi dianggap tak ”makan sekolahan”. Terasa mengharukan melihat persahabatan sehidup- semati Cak Kartolo dan Cak Sapari. Malam itu kita tiba-tiba melihat sebuah energi. Energi kejujuran, sekaligus energi kebersahajaan. Yu Painten kleleken jendelo Cekap semanten kidungan kulo.
Suryani Ika Sari - TEMPO

Anda Adalah Pengunjung Blog Yang Ke :