Sabtu, 08 Oktober 2011

Apa Kabar Ellyas Pical...?

Ellyas Pical (lahir di Saparua, Maluku Tengah, 24 Maret 1960) adalah petinju asal Indonesia yang merupakan juara dunia pertama dari Indonesia. 

Masa Kecil 
Elly, begitu dia disapa, seperti rekan-rekan sebayanya di kampung, pada masa kecil adalah seorang pencari mutiara alami, yang menyelam sampai ke dasar laut untuk mencari mutiara alam. Karena seringnya menyelam saat kecil itu, pendengaran Pical agak kurang peka. 

Awal Bertinju 
Pical jatuh cinta kepada olahraga tinju sejak menonton pertandingan-pertandingan tinju di TVRI, terutama pertandingan Muhammad Ali. Pical telah menggeluti olahraga tinju sejak berusia 13 tahun, dengan berlatih sembunyi-sembunyi karena dilarang oleh kedua orangtuanya. Sebagai petinju amatir yang bermain di kelas terbang, ia kerap menjadi juara mulai dari tingkat kabupaten hingga kejuaraan Piala Presiden. Karier profesionalnya dimulai pada tahun 1983 dalam kelas bantam junior. Sejak itu, berturut-turut sederet prestasi tingkat dunia diraihnya, seperti juara OPBF setelah mengalahkan Hi-yung Chung asal Korea Selatan dengan kemenangan angka 12 ronde pada 19 Mei 1984 di Seoul, Korea Selatan. Atas kemenangan ini, Pical menjadi petinju profesional pertama Indonesia yang berhasil meraih gelar internasional di luar negeri. Pukulan hook dan uppercut kirinya yang terkenal cepat dan keras itu, membawa Pical ke puncak popularitas. Oleh pers, pukulan tersebut dijuluki sebagai "The Exocet", merujuk pada nama sebuah rudal milik Perancis yang digunakan oleh Argentina yang dalam Perang Malvinas yang berkecamuk pada masa jaya Pical saat itu. 

Kejuaraan Dunia 
Ia merebut gelar juara IBF kelas bantam yunior (atau kelas super terbang) dari petinju Korea Chun Ju-do di Jakarta pada tanggal 3 Mei 1985. Setelah mempertahankan gelar melawan petinju Australia, Wayne Mulholland, 25 Agustus 1985, Pical harus mengakui keunggulan petinju Republik Dominika, Cesar Polanco dengan angka di Jakarta. Namun Pical mampu bangkit dan membalas kekalahannya atas Polanco dengan balik memukul KO Polanco pada pertandingan kedua di Jakarta, 5 Juli 1986. Sempat mempertahankan gelar melawan petinju Korea Selatan, Dong-chun Lee, langkah Pical terhenti setelah menyerah dari petinju Thailand, Khaosai Galaxy dengan KO pada ronde 14, pada tahun 1987. Setelah terjadi pergulatan batin berbulan-bulan karena depresi pasca kekalahan melawan Galaxy, Pical mampu bangkit dan merebut gelar IBF kelas bantam yunior kembali dari sang juara bertahan waktu itu Tae-ill Chang, juga dari Korea Selatan. Gelar ini sempat bertahan sampai 2 tahun, hingga akhirnya Pical harus terbang ke Ronoake, Virginia, Amerika Serikat untuk mempertahankan gelar melawan Juan Polo Perez dari Kolombia, (4 Oktober 1989, dan Pical harus menyerahkan gelarnya setelah kalah angka. 


Masa Pensiun 
Pasca kekalahan dari Perez, Pical sempat bertanding non gelar sebanyak 3 kali, hingga akhirnya ayah dari Lorinly dan Matthew Pical ini pun sedikit demi sedikit menyingkir dari ring tinju. Pical yang tidak sempat lulus SD ini kemudian bekerja sebagai petugas keamanan (satpam) di sebuah diskotik di Jakarta. 

Sisi Gelap 
Ia ditangkap pada 13 Juli 2005 oleh polisi karena melakukan transaksi narkoba di sebuah diskotik. Penangkapannya sempat menuai kritikan dari berbagai pihak yang menyoroti tiadanya jaminan hidup yang diberikan pemerintah kepada atlet yang telah mengharumkan nama negara. Pical lalu divonis hukuman penjara selama 7 bulan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. 

Pekerjaan dan Keluarga 
Setelah bebas dari penjara, Pical diterima bekerja di KONI pusat, sebagai asisten ketua KONI, Agum Gumelar (catatan: ketua KONI sekarang: Rita Subowo). Sepanjang karier profesionalnya, rekornya adalah 20 kemenangan (11 KO), 1 seri, dan 5 kekalahan. Dari pernikahannya dengan Rina Siahaya Pical, ia memperoleh dua orang putra: Lorinly dan Matthew, kini tinggal di perumahan Duta Bintaro, Kabupaten Tangerang. (wikipedia)

Sabtu, 01 Oktober 2011

Woww...Ternyata Nama "Indonesia" Dikenal sejak 1890..!!

Koran San Francisco 13 Juni 1910. 

KOMPAS.com — Penyebutan nama "Indonesia" di media cetak internasional ternyata muncul lebih lama dari perkiraan sebelumnya, bukan sejak Sumpah Pemuda 1928. Nama "Indonesia" ternyata bahkan sudah disebut di koran internasional sejak tahun 1890. Demikian hasil penelusuran terkini yang dilakukan seorang Kompasianer bernama Gustaaf Kusno yang rajin mengamati bahasa. 

Ia mengatakan, dari penelusuran koran lama yang didigitalisasikan (digitalized newspaper), penyebutan nama Indonesia ada pada harian Sacramento Daily edisi 27 September 1890. "Yang berarti 121 tahun yang silam! Ini benar-benar a big surprise untuk saya," tulisnya. 

Pada edisi tahun 1890 itu dikupas mengenai tradisi mengayau atau memenggal kepala oleh suku Dayak di Kalimantan. Secara singkatnya disebutkan bahwa tradisi mengayau ini merupakan kehidupan religius suku tersebut mulai dari saat pemuda akan melamar gadis pilihannya, istrinya mengandung, hingga akan melahirkan. Saat anak muda diakui sebagai laki-laki yang berhak memanggul mandau, semuanya dipersyaratkan melakukannya. Dengan penyebaran agama Islam, suku Dayak di wilayah jajahan Inggris dan Belanda sedikit demi sedikit meninggalkan tradisi pertumpahan darah ini. 

Nama Indonesia juga dimuat di sebuah artikel mengenai penemuan suku cebol di kawasan Papua pada harian San Francisco tertanggal 13 Juni 1910. Artikel tersebut menceritakan penemuan suku kerdil pada tebing gunung bersalju yang kemungkinan merupakan penduduk asli dari Indonesia. 

Ada satu lagi artikel mengenai Indonesia yang termuat pada koran The Sun edisi Minggu, 22 Agustus 1909, tentang tanya jawab soal pepatah dalam bahasa Inggris bahwa anak gadis yang suka bersiul dan ayam betina yang suka berkokok akan mengalami nasib sial. Saat itu dikatakan bahwa di kawasan Pasifik dan Indonesia semua perbuatan bersiul adalah tabu baik untuk laki-laki maupun perempuan karena siulan adalah suara dari iblis.

Anda Adalah Pengunjung Blog Yang Ke :